Tulisan ini bukan sebagai upaya untuk “menggurui” ataupun “membuktikan diri sebagai orang yang paling memahami” tentang rukyat, tetapi sebagai celah tentang bagaimana agar kita bisa bersama-sama dan bersatu padu dalam melaksanakan puasa Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha dan Hari Arafah, terlepas dari sudah banyaknya informasi yang membahas dan memaparkan tentang metode rukyat global yang ternyata juga mengandungi sisi perselisihan, terutama terkait dengan adanya perbedaan hari di belahan bumi sebaliknya.
Penulis tidak akan panjang lebar menjelaskan tentang rukyat global, tetapi penulis hanya akan memberikan sedikit sudut pandang yang mungkin bisa mengurai pemahaman rukyat global yang sampai hari ini masih saja dianggap bukan solusi menyeluruh untuk mendamaikan pertikaian tentang penentuan awal dan akhir bulan.
Selama ini, polemik selalu saja menunjuk pihak lain sebagai pihak yang keliru. Misalnya, penganut rukyat lokal mengatakan rukyat global keliru sebab ini dan itu, begitu sebaliknya. Penganut hisab mengatakan penganut rukyat keliru, dengan sebab ini dan itu, dan sebaliknya. Pada dasarnya, menurut penulis, baik rukyat maupun hisab membuahkan hasil yang sama, dan untuk rukyat sesungguhnya tidak ada namanya rukyat lokal maupun rukyat global. Rukyat ya Rukyat! Tidak ada global dan lokal. “Kesalahfahaman” menciptakan banyak persepsi yang berbeda, sehingga muncul global dan lokal.
Memulai pembahasan, di bawah ini satu pertanyaan (apakah bisa dianggap kekeliruan?pembaca yang menilainya), tentang bagaimana kita menentukan awal dan akhir bulan dengan metode rukyat global, sementara ada selisih waktu yang melebihi 10 jam :
1. Penulis kutip dari makalah berjudul Pengantar Memahami Astronomi Rukyat , Mencari Solusi Keseragaman Waktu-waktu Ibadah , oleh Dr.-Ing. H. Fahmi Amhar, disebutkan di halaman 5 bahwa “…Andaikata di Indonesia Selasa 5 November 2002 itu hilal bisa dirukyat, dan serentak seluruh dunia mengikutinya, maka di Amerika Serikat yang berselisih 12 jam dengan Indonesia “sudah” atau “masih” pagi? Faktanya di sana “masih” Selasa pagi. Apakah Selasa itu juga mereka harus imsaq? Atau menunggu Maghrib? Bila Selasa itu juga mereka imsaq, sedangkan di sana baru 29 Sya’ban pagi, maka berarti bulan Sya’ban di Amerika cuma berumur 28 hari! Dan itu tidak mungkin. Lain halnya kalau 29 Sya’ban di Amerika memang lebih awal 1 hari juga…”.
2. Penulis kutip dari artikel berjudul Kekeliruan Penganut Rukyat Global yang ditulis oleh Saudara Albi Fitransyah, S.Si, M.T, disebutkan bahwa “…Penganut Rukyat Global nampaknya belum mengetahui ”fakta ilmiyah” ini. Sebagaimana seluruh Umat Islam melaksanakan Sholat. Maka, tidak mungkin juga mengikuti waktu Sholat di Mekkah Arab. Misal, Albi sedang berada di Mekkah, dan melihat bahwa matahari di kota Mekkah sudah terbenam. Berarti sudah masuk Maghrib. Maka, Albi mengontak beberapa teman ke seluruh dunia, bahwa saat ini sudah masuk waktu Maghrib. Maka, Hendra yang berada di Papua mendengar kabar, bahwa harus melaksanakan Sholat Maghrib. Padahal di Papua, waktu sudah terlampau malam (jam 12 malam). Karena itu, ini tidak mungkin….”
Dua kutipan di atas menunjukkan sebuah sisi ketidakmungkinan menggunakan rukyat global, di mana penulis (mungkin diulas dari banyak sumber juga) memberikan perumpanaan yang berbeda, satu tentang pelaksanaan puasa satunya tentang waktu sholat, di atas.
Pembahasan
Penulis menyampaikan beberapa pernyataan utama untuk membelah kesalahfahaman kita bersama :
1. Bahwa yang ditentukan untuk diglobalkan atau disatukan kesamaannya adalah mengenai “hari” atau “day”, sedangkan banyak di antara kita yang memahaminya sebagai “waktu” atau “time”. Ini merujuk pada adanya hari besar Islam, bernama Hari Arafah, Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha. Hari besar itu bukan bernama Waktu Arafah, Waktu Idul Fitri, Waktu Idul Adha. Menurut hemat penulis, salah satu akar atau sumber perbedaan (permasalahan?) dalam penentuan awal dan akhir hari adalah perbedaan (kesalahfahaman?) dalam memahami titik ini. Penulis lebih cenderung melihat itu sebagai kekeliruan, bukan kesalahfahaman, atau lebih tepatnya “kekeliruan yang disebabkan ketidaksadaran massal”, di mana ajaran Islam memaksudkannya sebagai HARI tetapi banyak dari umat Islam menangkapnya sebagai WAKTU.
2. Bahwa di bumi ini sebenarnya hanya ada satu hari. Di antara kita sering memahami dan berpendapat bahwa di bumi ini terdapat dua hari sebagaimana menurut Teori International Date Line (IDL). Dalam teori IDL, bahwa bumi memiliki 2 hari, disebabkan sebuah “hari”, menurut IDL, dimulai pada jam 00.00. Permulaan hari pada jam 00.00 inilah yang menciptakan adanya “dua” hari di bumi. Sementara itu, dalam kalender Hijriyah, sebuah “hari” dimulai dari sejak terbenamnya matahari (sore) sampai terbenamnya hari di hari berikutnya (sore juga). Hari dalam Hijriyah meliputi 2 kondisi yaitu Siang dan malam, atau malam dan siang. Dua kondisi “siang dan malam” dan “malam dan siang” tersebut tetap dalam satu hari dan bukan berbeda hari. Satu sisi di bumi, hari itu dalam kondisi siang dan satu sisinya, pada hari yang sama, sedang dalam kondisi malam. Maksudnya, apabila satu sisi bumi sedang berhari Selasa siang, maka sisi bumi sebaliknya sedang berhari Selasa malam. Bahkan menurut penulis, kalender yang tepat adalah kalender hijriyah, dibandingkan kalender masehi, disebabkan di galaksi bima sakti ini, hanya ada satu bumi, satu matahari dan satu bulan, di bumi ini sebenarnya hanya ada satu hari, dalam kondisi siang atau malam yang dibalikkan.
Kemudian penulis akan membahas dua pernyataan kutipan dari dua penulis di atas:
Pernyataan pertama : (pada nomor 1 kutipan)
Jawaban penulis : Apabila terjadi suatu keadaan misalnya di Indonesia Selasa 5 November 2002 itu hilal bisa dirukyat, dan di Amerika Serikat yang berselisih 12 jam dengan Indonesia ternyata faktanya di sana “masih” Selasa pagi, bagaimana memutuskannya? Menurut penulis, oleh karena di Amerika Serikat itu masih melalui tahapan hari Selasa (yaitu selasa malam), dan belum memenuhi satu hari Selasa, maka di Amerika Serikat harus dilaksanakan dulu hari selasa siangnya, sehingga pada selasa siang itu di Amerika Serikat tetap berpuasa sampai terbenamnya matahari. Jika ini dilaksanakan, maka hari rayanya bisa bersamaan “hari”nya antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Pernyataan kedua : (pada nomor 2 kutipan)
Jawaban penulis : Sholat tidak berkaitan dengan “hari”, tetapi “waktu”, sehingga pemutusannya tidak sama dan sangat jauh berbeda dengan Hari Raya dan Hari Arafah. Dalam “waktu” muncul yang dinamakan “matlak” yaitu batasan menurut wilayahnya. Dalam “hari” tidak ada matlak. Maka dalam kutipan tersebut jelas sekali penyamaan antara “hari” dan “waktu” padahal keduanya berbeda.
Menurut anggapan dan hemat penulis, bahwa dua pernyataan kutipan di atas merupakan permasalahan umum dan sudah menjadi “perselisihan abadi” di kalangan umat Islam, tidak hanya di Indonesia tetapi di luar negeri juga.
Kesimpulan :
1. “Hari” berbeda dengan “waktu” sehingga metode penentuannya juga berbeda
2. Dalam Rukyat Global, yang diglobalkan adalah “hari” bukan “waktu”
3. Hari Arafah, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha berkaitan dengan “hari” bukan “waktu”.
4. Di bumi ini hanya ada satu hari, dengan kondisi siang dan malam atau malam dan siang.
Penulis:
Muhibbuddin
Sumber :
http://osolihin.wordpress.com/2007/08/31/metode-menentukan-awal-dan-akhir-ramadhan/
http://elieramadhan.blogspot.com/2011/05/kekeliruan-penganut-rukyat-global.html
