Tewasnya Moammar Khadafi di tangan tentara NATO (ada yang menyebut dengan kalimat “di tangan rakyatnya sendiri setelah dilumpuhkan tentara NATO”) pada 20 Oktober 2011 merupakan akhir dari sebuah kisah hidup Sang Pemberani dari Daratan Afrika. NATO berani menyerang dan memukul telak perlawanan tentara Khadafi tentunya atas pertimbangan bahwa kemampuan tentara Khadafi tidak cukup untuk melawan gempuran NATO. Batas kemampuan perang inilah yang menjadi titik “berani” bagi tentara NATO untuk menunjukkan seolah-olah kehebatannya.
Apa yang terjadi di lapangan tentunya sungguh ironis, sebab seorang Khadafi yang sudah tidak berdaya harus dibombardir dengan gempuran bom berdayaledak tinggi.
Libya dan Palestina
Mungkin benar bahwa kejahatan Moammar Khadafi tidak bisa ditolelir, tetapi apabila disejajarkan dengan status kejahatan Israil terhadap rakyat Palestina, apakah NATO dan Amerikat Serikat bisa berkutik? Sungguh tidak membanggakan melihat tentara sehebat tentara NATO meluncurkan rudal berdaya ledak tinggi untuk memusnahkan seorang Khadafi, yang jelas-jelas sudah tidak berdaya apa-apa, seperti seseorang dengan peralatan perang lengkap membunuh seorang tua renta yang tidak memiliki kekuatan apa-apa lagi, sementara begitu memilukan rakyat Palestina yang tidak berdaya dan sebagian besar hanya melawan menggunakan lemparan batu, serta beberapa roket lemah, diluluhlantakkan tentara Israil dengan peralatan perang yang canggih dan kuat.
Bagi rakyat Libya sendiri, bila digeneralisasikan ke ruang lingkup regional di timur tengah, perilaku tentara NTC (Dewan Transisi Nasional) sangat memalukan. Kita akan saksikan, jika sekarang ini NTC bisa memusnahkan sang diktator Moammar Khadafi, maka mampu dan beranikah pemerintah baru Libya yang tentunya masih sikuasai NTC menunjukkan perlawanannya terhadap negara dan lembaga super dikktator (NATO, Amerika Serikat dan Israil) ketika berhadap-hadapan dengan permasalahan terkait Palestina? Apa yang terjadi di Irak, Afghanistan, Pakistan, dan Libya merupakan gambaran bahwa sang diktator sesungguhnya ada di NATO, Amerika Serikat dan Israil itu sendiri.
Saat Mesir sudah dikuasai rezim yang tidak memihak kepada Israil, maka kesempatan di Libya ini dimanfaatkan agar NATO, Amerika dan Israil memiliki kawan di Libya dalam mempertahankan eksistensi Negara Zionis Israil di timur tengah.
Perkembangan pasca Khadafi
Alur politik dan masa depan Libya pasca tumbangnya Khadafi masih kelabu. Jaminan bahwa NATO dan Amerika Serikat akan membebaskan Libya dengan mengabaikan status eksistensi Israil di timur tengah tidak ada sama sekali. Apa yang diputuskan dengan menyerang rezim Khadafi nampak jelas dan kentara akan agenda besar demi menyelamatkan Israil, dan tentunya ladang minyak yang menggiurkan. Dengan bantuan yang diberikan NATO kepada NTC, tentunya tidak akan menjadikan Libya itu merdeka.
Deklarasi kemerdekaan rakyat Libya pada Minggu 23 Oktober 2011, yang disebutkan sebagai Kemerdekaan dari Kediktatoran rezim Khadafi tidak menutup pintu datangnya penjajahan oleh NATO dan Amerika Serikat yang ini menjadi awal penjajahan baru era tumbangnya Khadafi.
Pada era Khadafi, ladang minyak di Libya tertutup bagi intervensi asing terutama dunia barat, yang inilah menjadi penyebab utama serangan NATO ke Libya. Tetapi pada era pasca Khadafi justru membuka peluang campur tangan asing dalam pengelolaan emas hitam ini.
Libya sebelum revolusi memproduksi 1,8 juta barrel per hari dan cadangan minyaknya diperkirakan 42 miliar barrel. Libya juga memiliki cadangan gas sekitar 1,5 miliar kubik. Ekspor minyak merupakan 95 persen dari keseluruhan ekspor Libya ke luar negeri.
Alih-alih Libya sedang mendeklarasikan kemerdekaan diri dari diktator rezim Khadafi, justru membuka pintu penjajah NATO dan Amerika Serikat untuk mengendalikan dan campur tangan dalam pengelolaan minyak dan gas bumi Libya, kebijakan asing Libya terutama terkait Israil, dan peran Libya bagi dunia Islam.
Sumber :
http://internasional.kompas.com/read/2011/10/23/06584867/Perjalanan.Panjang.Sang.Kolonel
http://internasional.kompas.com/read/2011/10/22/03352453/Khadafy.Tak.Membangun.dalam.Empat.Dekade
