Masih nyatakah masyarakat internasional mempercayai Israil? Jawabannya yang realistis dan logis ada di UNESCO. Begitulah jawabannya kira-kira untuk menjelaskan tingkat kepercayaan masyarakat internasional terhadap pemerintah Israil. Masyarakat internasional lebih memilih kemerdekaan bagi Palestina dan ini artinya bertolak belakang dengan langkah Israil yang memaksa Palestina tidak mencapai kemerdekaan. Bagaimana bisa penjajah berunding dengan negara yang dijajah dan memerdekakan tanah jajahannya?
Belum lagi kegagalan sanksi sepihak terhadap Iran dalam rangka melindungi Israil, juga tidak mendapat dukungan masyarakat internasional, sehingga sanksi tersebut tidak berfungsi efektif.
Sejak deklarasi Israil sebagai sebuah negara baru di Timur tengah, banyak sekali manuver dan pergolakan politik yang mengiringinya. Dari bentrok bersenjata sampai perang melibatkan beberapa komponen timur tengah.
Perang enam hari pada 5 – 10 Juni 1967, tidak terlepas dari tindak-tanduk pemerintah Israil yang memang sudah terbukti semaunya sendiri. Latar belakangnya beragam versi, tetapi yang terlihat dari rekaman perilaku pemerintah Israil sampai hari ini, bahwa perang-perang yang berkobar di Timur Tengah melibatkan Israil, dan tentunya Amerika Serikat, membawa opini dunia menuju kesimpulan global bahwa sejak berdiri, diikuti kegiatan pengembangan pendudukan wilayah baru di Palestina sehingga pembangunan pemukiman baru di tanah Pendudukannya sebagai bukti bahwa Israil merupakan negara yang tidak bisa diajak berunding tanpa pemaksanaan kehendak dan bertindak semaunya sendiri.
Efek dari semua itu adalah langkah Palestina yang terpaksa harus langsung menembus UNESCO untuk memperoleh legitimasi dunia. Selain itu, dukungan masyarakat internasional, baik dalam bentuk non-formal berupa bantuan kemanusiaan ke Gaza dan secara formal berupa pesetujuan mayoritas anggota UNESCO untuk menerima Palestina sebagai anggotanya menunjukkan bahwa sesungguhnya masyarakat internasional sudah dapat memberikan penilaian realistis terhadap karakterisik pemerintah Israil dari mula berdiri sampai hari ini.
Ini sebagai bukti baru bahwa perang-perang yang berkobar di Timur tengah melibatkan Israil dan beberapa negara regional disebabkan memang tipe pemerintah Israil yang selalu saja menebar teror dan anti kemanusiaan, sekali lagi sejak mula berdiri sampai hari ini.
Grafik dukungan terhadap Israil hanya dimiliki beberapa negara. Hanya sedikit negara yang mendukung Israil bertindak sesukanya sendiri.
Berbagai peragaan kebengisan dan penindasan oknum di pemerintah Israil baik terhadap Palestina maupun banyak negara lainnya untuk mengokohkan eksistensi lembaga Zionis tersebut di timur tengah tidak terlepas dari kebejatan moral dan tentunya dukungan senjata nuklir yang sampai detik ini aktifitasnya tidak diperbolehkan untuk di moniroting oleh IAEA. Bahkan Israil melalaikan tuntutan masyarakat internasional agar membuka aktifitas senjata nuklirnya.
Tuduhan justru ditujukan kepada Iran, yang nyata-nyata sudah berkerjasama dengan IAEA sehingga aktifitas nuklir Iran termonitoring setiap waktu.
Jika dipertanyakan, apakah senjata nuklir di Israil bisa menjadi jaminan bahwa Timur tengah mampu damai dan menjunjung kemerdekaan bagi masing-masing negaranya? Maka jawabannya sudah terbuka saai ini, bahw senjata nuklir yang dimiliki Israil tidak memberikan efek damai dan efek kemerdekaan baik bagi Palestina, maupun banyak negara lain di dunia ini. Pemerintah Negara Palestina dipaksa untuk bungkam terhadap aktifitas perluasan wilayah pendudukan Israil. Tidak hanya itu, seruan masyarakat internasional agar Israil kembali ke meja perundingan tanpa perluasan pemukiman baru dan mengakui kemerdekaan Palestina juga tidak digubris dan diperhatikan, meskipun sesaat.
Seruan masyarakat internasional bahkan dibalas dan dialihkan dengan menyusun planning serangan militer terhadap fasilitas nuklir damai Iran.
Masih nyatakah masyarakat internasional mempercayai Israil? Jawabannya ada di UNESCO. Belum lagi kegagalan sanksi sepihak terhadap Iran dalam rangka melindungi Israil, juga tidak mendapat dukungan masyarakat internasional, sehingga sanksi tersebut tidak berfungsi efektif. Logika masyarakat internasional sesungguhnya normal dan sehat. Tetapi negara-negara “sakit” pemilik senjata nuklir memaksakan kehendaknya. Bahkan opsi militer tetapi dimungkinkan jika sanksi-sanksi gagal yang ini artinya bahwa senjata nuklir menjadi daya dorong terkuat yang memovitasi serangan militer. Ini bukti bahwa senjata nuklir bisa memungkinkan sebuah negara menjadi agresif dan tirani, meskipun ada banyak negara pemilik senjata nuklir juga bisa low profile dan humble.
Sumber :
http://www.habermonitor.com/en/haber/detay/71741/39israel-put-nuclear-missiles39
http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/11/11/12/lujf14-sodorkan-bukti-baru-iaea-sebut-aktivitas-nuklir-iran-untuk-keperluan-militer
http://hankam.kompasiana.com/2011/06/07/mengenang-perang-enam-hari-yang-legendaris-5-%E2%80%93-10-juni-1967/

Negara-negar di dunia harus bersatu padu memerangi Israel. Nyatanya banyak negara seolah tutup mata terhadap kekejaman Israel
http://necel.wordpress.com/2011/11/12/the-new-7-wonders-of-nature/