Ancaman dibalas dengan ancaman, demikianlah apabila satu negara tidak lagi menghargai kedaulatan negara lain. Alangkah ironisnya, Amerika Serikat yang membutuhkan minyak dari Timur Tengah telah menjadikan minyak sebagai “rudal” untuk menyerang Iran yang pada saat yang sama juga sebagai eksportir utama minyak dunia. Sebagai balasan ancaman tersebut, Selat Hormuz yang merupakan sebagian wilayah kedaulatan Iran, dijadikan sebagai “tameng rudal” dalam gelombangan melawan hegemoni satu negara tersebut.
Beberapa hari terakhir ini, gejolak politik Iran dan Amerika Serikat semakin menggemuruh.. Menyusul ancaman Amerika Serikat yang akan memutuskan jalur eksport minyak Iran, Iran menanggapi dengan intonasi yang tegas dan tidak mentoleransi segala bentuk penggunaan jalur Selat Hormuz sebagai lalu lintas minyak ke Eropa.
Selama beberapa dekade, Eropa dan tentunya Amerika Serikat seharusnya menyadari peran vital Iran dalam memberikan kelonggaran sebagian wilayahnya untuk dijadikan “jalur bebas” perlintasan armada minyak untuk memenuhi kebutuhan Amerika Serikat dan Eropa.
Sanksi sepihak tentunya tidak sejalan dengan kemurahan Iran dalam membebaskan siapapun untuk melintas di Selat Hormuz, meskipun sesungguhnya Selat Hormuz merupakan wilayah kedaulatan penuh Negeri Persia tersebut.
Selama ini, ekonomi Eropa juga menggantungkan dari laluan minyak dunia tersebut, walaupun sebenarnya penutupan Selat Hormuz bukanlah akan menutup deadline jalur perlintasan minyak. Beberapa saat yang lalu saat wargame Iran berlangsung, militer AS juga memperingatkan Iran agar tidak menutup Selat Hormuz karena penutupan atau pemblokiran Selat Hormuz akan berdampak pada perekonomian dunia.
Begitu vitalnya peran Iran dalam membantu perekonomian masyarakat internasional, tetapi balasannya terhadap Iran tidak seimbang dan tidak mempertimbangkan peran serta Iran dalam membantu dunia internasional tersebut.
Penutupan Selat Hormuz yang direncanakan Iran meskipun sudah ditampiknya sendiri melalui Kementerian Luar Negeri Iran tentu tidak sebagai bentuk ancaman nyata, akan tetapi sebagai wujud kepedulian Iran dalam menjalin persahabatan dengan negara manapun yang membutuhkan Selat Hormuz sebagai laluan minyaknya.
Sementara itu Jepang yang sefaham dengan Amerika Serikat dalam persoalan terkait Korea Utara, menyatakan tidak bisa mengikuti jejak Amerika menghentikan import minyaknya dari Iran. Dan sesungguhnya embargo minyak Iran tersebut hanya “diminati” oleh segelintir negara Eropa saja, yang mayoritas masih bersatu suara dan kepentingan dengan minyak Iran, yang otomatis tidak akan kuat menggoyahkan ekonomi Iran.
Iran memahami kondisi tersebut, di mana pemberlakuan embargo tidak akan mengurangi nominal ekport minyak Iran. Akan tetapi teriakan menutup Selat Hormuz itu untuk menegaskan peran serta Iran dalam membebaskan sebagian wilayah kedaulatannya berupa Selat Hormuz menjadi laluan internasional, terutama sebagai jalur minyak utama dunia.
Sejalan dengan hal tersebut di atas, Deputi Komandan AL Rusia, Laksamana Ivan Kapitanets, seperti dikutip RT, Jumat (30/12/2011).yakin, Iran dan AS tidak mungkin mengadakan konfrontasi militer di wilayah perairan itu meski adanya eskalasi ketegangan hubungan antara Iran dan AS.
“Tindakan AS sangat provokatif, namun, konfrontasi militer sepertinya tidak akan berlangsung di wilayah itu karena seiring dengan makin rumitnya situasi di Selat Hormuz,” jelasnya
Sumber :
http://www.analisadaily.com/news/read/2011/12/21/27114/jepangas_sependapat_menyangkut_korut_tetapi_berbeda_soal_iran/
http://international.okezone.com/read/2011/12/30/414/549189/rusia-al-iran-takkan-sanggup-hadapi-as