DOWNLOAD GRATIS CONTOH PROPOSAL SKRIPSI BIMBINGAN DAN KONSELING

Proposal ini murni karya saya sendiri.

Proposal skripsi dalam dokumen ini, bebas untuk dicpoy dan paste, tanpa minta ijin dengan penulis, baik untuk tujuan komersil maupun tidak.

File hanya tersedia dalam format ODT (Linux OpenOffice) dan PDF)

Jika akan membukanya, saudara harus install program OPENOFFFICE di komputer anda. Bersyukur jika sudah menggunakan Linux.

Selamat membuka dan belajar. Salam Damai dari kami…

Proposal Skripsi Makul Bimbingan Konseling

Contoh Proposal Skripsi Makul Bimbingan Konseling – (format PDF)

DOWNLOAD GRATIS, RESUME BUKU ”PATOLOGI SOSIAL, GANGGUAN-GANGGUAN KEJIWAAN”

Tulisan ini merupakan bentuk Resume dari Buku berjudul ”Patologi Sosial, Gangguan-gangguan Kejiwaan”. Pengarang : Dr.Kartini Kartono (2010).
Siapapun diperbolehkan untuk copy paste dengan bebas atas tulisan berikut ini dengan tujuan bukan untuk kegiatan komersil, tanpa ijin dari penulis,

Download file Powerpoint

TUGAS KELOMPOK PATOLOGI SOSIAL

 

PEMAHAMAN MENGENAI MANUSIA DAN KEHIDUPAN PSIKIS
Apa yang terkandung dalam pribadi manusia, sejatinya bisa dipahami lewat pengamatan terhadap pikiran, perasaan dan kemauan dan isu-isi ketidaksadarannya. Isi-isi kejiwaan dapat disebut subyektif maupun obyektif. Isi kejiwaan tersebut disebut obyektif jika peristiwa itu benar-benar ada, bisa dijelaskan, dapat dikontrol kebenarannya melalui bukti yang nyata.
Apabila suatu isi psikis itu sesuai dengan pendapat sendiri, tidak bisa dikontrol dan dibuktikan menurut selera sendiri, disebut subyektif. Berbagai isi kejiwaan subyektif tersebut memiliki sifat yang ”mengganggu” .
Gangguan-gangguan psikis itu hampir-hampir tidak pernah muncul disebabkan oleh satu faktor saja, akan tetapi selalu diakibatkan oleh satu rentetan kompleks faktor penyebab, yaitu oleh faktor organis atau somatis, faktor psikis dan struktur kepribadian, serta lingkungan atau sosial.
Banyak manusia yang lahir dari suatu rumah tangga yang rusak secara moral, di mana perlakuan buruk dari anggota keluarganya sendiri kadangkala diterimanya tanpa bisa menolak dan membela diri, sehingga menciptakan gangguan-gangguan psikis yang menetap dalam dirinya.
Kemudian model kehidupan masyarakat modern ini, yang kompetitif, penuh persaingan kepentingan, memburu keuntungan semata, individualis dan eksplosif sekarang ini memberikan dampak negatif pada perkembangan kepribadian anak-anak dan para pemudanya, juga orang dewasa dan orang tua-orang tua, yang ini dapat berkembang menjadi bentuk-bentuk gangguan jiwa.

PENGERTIAN SAKIT DAN PENYAKIT GANGGUAN FUNGSI PSIKIS

Menurut Prof.DR.P.C.Kuiper, 1973, definisi penyakit adalah terganggu atau tidak berlangsungnya fungsi-fungsi psikis dan fisik, yaitu ada kelainan dan penyimpangan yang mengakibatkan kerusakan dan bahaya pada organ atau tubuh, sehingga bisa mengancam kehidupan. Orang tersebut disebut sakit apabila dia mengalami kelainan/penyimpangan yang mengakibatkan kerusakan dan bahaya organ atau tubuh, dan bisa mengancam kehidupannya.
Gangguan fungsional adalah gangguan pada fungsi-fungsi fisik maupun pada fungsi-fungsi psikis.
Gangguan fungsional ada dua, laesional dan psikogen. Penderitaan dan gangguan pada fungsi yang disebabkan oleh cedera atau laesie dinamakan gangguan laesional. Apabila gangguan tersebut berlaku secara berterusan disebut cedera organis/laesie. Ketika pengaruh-pengaruh psikis dan konflik-konflik psikis tersebut menimbulkan gangguan fisik, maka gangguang ini dinamakan gangguan psikogen.
Organisme merupakan pribadi yang hidup dan tumbuh, yang mengalami suatu proses adaptasi (penyesuaian diri), relasi dinamis antara fungsi-fungsi dalam organisme dengan lingkungannya. Dengan adanya penyesuaian diri tersebut, maka gangguan dalam diri manusia, baik psikis dan fisik, bisa memberikan suatu kemampuan untuk hidup sehat. Akan tetapi, jika adaptasi tersebut tidak berjalan normal ataupun berhenti, dan kejadian tersebut berlangsung secara progresif, maka timbul akibat yang disebut sakit.
Sehingga, penentu bagi jiwa yang sehat maupun sakit adalah 1) isi dari pengalaman individu 2) cara individu mengelola dan menyelesaikan yang dihadapi, yaitu dengan cara yang wajar, melalui penggunaan mekanisme pelarian diri dan pembelaan diri yang negatif.

PENYEBAB GANGGUAN PSIKIS: FAKTOR MULTI-KAUSAL
Penyebab gangguan psikis adalah faktor organisme itu sendiri, psikisnya dan pengaruh sosial, yang mana antara satu sama lain saling mempengaruhi dan menjalin suatu rangkaian yang multikausal, sehingga gangguan psikis tersebut menjadi kompeks untuk diselesaikan dan diobati.
Sebab musabab yang multikausal yang berlangsung secara ”sinergi” tersebut difahami sebagai sumber utama permasalahan dan penyakit dalam diri manusia yang normal.

GANGGUAN KESADARAN
Kesadaran adalah suatu intensionalitas atau suatu relasi antara subyek yang aktif mengalami dengan obyek yang dialami. Dapat diartikan sebagai pengamatan sendiri, penghayatan sendiri, pengalaman sendiri, dengan sadar dimaksudkan begitu. Ketidaksadaran merupakan tidak diketahui dengan jelas, terlepas dari penghayatan sendiri, tidak dimaksudkan sedemikian.
Gejala gangguan kesadaran ialahcoma (penyakit tidur), subcoma (di bawah penyakit tidur sangat pulas) , sopor (tidur sangat nyeyak), delier (lepas, gila, panas hati, pasien menjadi cemas dan gelisah), dementia, dan keadaan samar-kabur histeris. Gangguan kesadaran histeris terkadang muncul dengan kecemasan yang kronis. Gangguan kesadaran ini biasanya karena adanya gangguan fungsi pada pusat otak, disebabkan oleh suatu penyakit fisik, oleh intoxicatie, atau oleh keracunan. Pada kecederaan otak yang disebut dengan geger otak atau commotio cerebri, gangguan kesadaran juga bisa timbul. Gangguan kesadaran yang parah menunjukkan gejala sebagai berikut:
1. Daya orientasinya sangat terganggu
2. tTdak memahami lingkungan sekitarnya
3. Konsentrasi minatnya terganggu atau tidak bisa berlangsung
4. Mengalami amnesia atau hilang ingatan tentang keadaan diri sendiri dan lingkungannya.

Dementia adalah proses kemunduran yang hebat pada penderita amnesia. Dementia senilis disebabkan oleh proses ketuaan fisik. Dementia paralytica disebabkan oleh kelumpuhan, berlangsung proses kerusakan yang progresif, yang mengakibatkan perubahan dan erosi pada struktur kepribadian, disertai dengan kompleksitas gejala amnesia. Pusat kerusakan pada cortex atau kulit otak (selaput otak).
Silbermann (1971) mendefinisikan beberapa gangguan kesadaran:
1. Coma, kehilangan kesadaran, tanpa reaksi terhadap perngsang sakit
2. Subcoma, kehilangan kesadaran, namun masih bisa mereaksi perangsang sakit
3. Keadaan soporeus, kehilangan kesadaran, namun masih bisa dibangunkan
4. Keadaan samar kabur, menurunnya kesadaran, namun tidak dihinggapi halusinasi dan delusi-delusi.
5. Keadaan delirant, menurunnya kesadaran disertai halusinasi dan delusi.
6. Keadaan stupor, keadaan tetap sadar, namun mengalami mutisme (membisu), tanpa gerakan-gerakan sama sekali dan menjadi kaku beku.

GANGGUAN KESADARAN DIRI DALAM WUJUD DEREALISASI DAN DEPERSONALISASI
Derealisasi merupakan gangguan kesadaran dalam bentuk di mana seseorang tidak mengenal kembali lingkungan sekitar. Apabila ada tanggapan yang sangat keliru mengenai dunia kenyataan/realitas yang diputarbalikkan dan dipalsukan, yang ditujukan kepada diri sendiri dan person lain, maka disebut depersonalisasi. Pada keduanya, seseorang menjadi asing, tidak mengenal kembali situasi sekitarnya, muncul ketakutan dan panik. Lalu sering timbul perasaan hilang hanyut, tidak berdaya dan rasa putus asa.
Instink terdapat pada hewan, tetap manusia juga memiliki perilaku yang instinktif, namun sudah tidak murni lagi sebab sudah mengalami campuran dengan norma-norma dalam kehidupan sosialnya. Disandingkan dengan dorongan atau motivasi, instink manusia menjadi penggerak bagi segala tingkah laku dan menjadi pendorong tenaga dinamis yang tertanam dalam kepribadian manusia.
Narkotika merupakan sebagian dari penyebab ketergantungan psikis dan fisik. Akibat jauh dari narkotika ini adalah timbulnya banyak masalah sosial, prostitusi, kriminalitas, kenakalan remaja, gerakan ekstrim, keresahan sosial, dan lain sebagainya.

GANGGUAN PADA FUNGSI PENGENALAN
Pengenalan atau pengamatan muncul melalui indera manusia. Ketika terjadi suatu daya pengamatan yang terganggu atau cedera, maka orang tersebut akan : tidak mampu mengerti dan memahami perasaan orang lain, tidak mengerti kondisi lingkungan sosial, sehingga tidak mampu melakukan perbuatan manusiawi yang biasa-biasa, sebagaimana yang diharapkan oleh orang lain yang normal dan pada dirinya sendiri. Ini ditimbulkan bisa karena kurang peka dan kurang tanggap, ingatannya buruk, bahkan justru mereaksi salah tetapi tidak menyadari kesalahannya.
Pengamatan adalah kesan yang diterima, sewaktu perangsang yang diberikan oleh dunia luar atau kenyataan yang ada mengenai indera kita.
Gangguan pada fungsi pengenalan atau pengamatan adalah :
1. Ilusi optik, pengamatan yang keliru
2. Halusinasi, pengamatan tanpa obyektivitas penginderaan dan tanpa disertai perangsang fisik yang bersangkutan
3. Pseudo-halusinasi, peristiwa yang dihayati sebagai tanggapan, dan bukan sebagai satu pengamatan, pengmatan semu, satu tanggapan spontan dan tiba-tib.
4. Mimpi-mimpi, mirip dengan halusinasi, tetapi bukan penyakit jiwa
5. Delusi, gambar-gambar tipuan dari pengamatan, gambar semu atau yang memperdayai kita, dengan kesesatan yang tidak bisa dibetulkan dan tidak cocok sama sekali dengan pikiran serta pendapat sendiri. Disebabkan oleh pengalaman masa lalu atau harapan yang belum tercapai.
6. Hilangnya reality-testing. Reality testing merupakan daya untuk melakukan test realitas hidup, baik terhadap diri sendiri maupun lingkungannya, untuk membedakan diri pribadi dengan dunia luar.

GANGGUAN PADA FUNGSI BERPIKIR
Berpikir adalah kemampuan untuk meletakkan hubungan dari bagian-bagian pengetahuan kita. Pikiran atau rasio adalah kemampuan psikis untuk meletakkan hubungan dari setiap pengetahuan kita.
Gangguan fungsi berpikir adalah:
1. Kelambanan daya berpikir (Bradyfreni), pasien lambat berpikir, seperti pada penderita amnesia dan cedera otak/geger otak.
2. Percepatan pada pikiran. Pasien menginginkan bercerita banyak, sehingga kurang dipikirkan lebih dahulu apa yang diceritakan.
3. Terputusnya pikiran, bisa disebabkan oleh absensi psikis, epilepsi dan hilang kesadaran singkat.
4. Inkoherensi pada kemampuan berpikir; pikiran kusut, kesadaran hilang, pikiran tidak runtun. Disebabkan oleh : a) pemimpi siang (daydream) di mana pasien melihat berbagai macam gambaran yang tidak teratur dan b) penderita psikosa dan schizofrenia di mana pasien menciptakan kosakata baru, perkataan baru dan istilah baru yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri, yang mengandung magis, sihir, kalimat yang kacau balau.
5. Delusi
Semua pada gangguan pada isi pikiran terjadi peristiwa:
1. Kecenderungan untuk memalsukan realitas atas dasar harapan-harapan dan kecemasan sendiri
2. Menurun atau hilangnya reality testing, hingga orang lain tidak mampu mengoreksi pemalsuan terhadap realitas yang nyata.

GANGGUAN PADA FUNGSI INTELEGENSI DAN DEMENTIA
Intelegensi adalah kemampuan untuk menggunakan dengan tepat segenap alat bantu dari pikiran guna penyesuaian diri terhadap tuntutan-tuntutan baru (William Stern). Intelek adalah kemampuan untuk meletakkan hubungan dari proses berpikir.
Orang yang intelek akan mampu berpikir, menimbang mengkombinasikan, mengambil kesimpulan dan memutuskan sesuatu dalam tempo yang singkat dan efisien. Jiwanya lemas, mampu memecahkan masalah secara efektif, dan berdaya adaptasi tinggi.
Pengaruh milieu (potensi psikis dan fisik yang ada sejak manusia lahir) bisa memajukan intelegensia tetapi juga bisa menghambat fungsi intelegensia.
Gangguan pada intelegensia adalah amentia dan dementia.
Amentia adalah berupa lemah ingatan, gangguan mental. Disebabkan oleh :
1. Faktor keturunan
2. Penyakit sewaktu jania dalam kandungan
3. Luka-luka/cedera otak pada waktu lahir.
Kelompok amentia dibagi : idiocy (orang dengn IQ 25, tidak bisa berkembang dan tidak bisa diajari lagi), imbesil (IQ antara 25-49, gerakan tidak stabil, lamban, ekspresi wajahnya kosong dan ketolol-tololan, reaksi kurang, kurang bisa mengurus diri sendiri, tapi masih bisa melindungi dari bahaya fisik) dan debil (lemah ingatan, IQ antara 50-70, tidak mampu mengontrol diri, kurang nalar, kurang pikiran, butuh perlindungan orang lain).
Dementia adalah kerusakan mental, ciri-ciri : hilangnya fungsi intelektual, kemampuan nalar, ingatan dan kemauan, ditandai kebingungan, disorientasi, apati dan berbagai macam ingatan stupor. Jenis dementia:
1. Dementia alkoholik
2. Dementia apoplectik, oleh pendarahan pada otak
3. Dementia agitata, kegembiraan dan kebingungan
4. Dementia paralitica, disertai kelumpuhan
5. Dementia paranoid, delusi dan halusinasi
6. Dementia precox, kegilaan pada masa pertumbuhan adolescene, anak cepat dewasa secara seksual, tetapi fungsi intelegensianya kurang tumbuh normal, lebih suka tertarik pada persoalan seks dan cenderung psikotis.
7. Dementia epileptik, disebabkan penyakit ayan
8. Dementia presentil, sering bingung, apatis dan hilangan inisiatif dan ingatan.
9. Dementia primer
10. Dementia sekunder, serangan kejang-kejang
11. Dementia senile, karena usia tua
12. Dementia traumatik, karena luka pada kepala
13. Dementia sirkuler, karena pergantian berterusan antara kegemparan dan depresi

GANGGUAN PADA FUNGSI INGATAN

Ingatan adalah kemampuan untuk mencamkan, menyimpan dan mereproduksi kembali isi pikiran. Menurut Kohnstann ingatan adalah setiap ungkapan, dalam mana kaitan psikis dimanifestasikan dalam dimensi waktu. Sifat ingatan : setia, cepat, mampu menyimpan lama, luas dan bisa mengabdi pada keinginan kita.
Bentuk gangguan pada ingatan adalah amnesia, hambatan pada fungsi reproduksi dan senilitas.

GANGGUAN PADA FUNGSI PERASAAN
Perasaan adalah gejala psikis dengan tig sifat khas, yaitu:
1. Dihayati secara subyektif
2. Berkaitan dengan fungsi pengenalan
3. Dialami individu dengan suka atau tidak suka, dengan gembira atau duka.

Merasa adalah kemampuan untuk menghayati perasaan atau renjana. Perasaan ditentukan oleh :
1. Isi kesadaran
2. Kepribadian orang
3. Kondisi psikisnya.

Beberapa gangguan pada fungsi perasaan adalah:
1. Kecemasan
2. Ketidakpekaan perasaan
3. Penumpulan perasaan
4. Perasaan yang tidak adekuat dan palsu
5. Depresi
6. Geltungstrieb dan Ersatzbefriedigung, Keinginan untuk dilayani secara layak dan menuntut pengakuan dari luar
7. Mania-mania

GANGGUAN PADA FUNGSI KEMAUAN (FUNGSI VOLUSI DAN KONASI)
Kemauan merupakan dorongan keinginan manusia untuk merealisasikan diri dan meningkatkan taraf hidup.
Beberap gangguan : simpton-simpton, kompulsi, reaksi kompulsi-obsessif, tics atau gerak wajah, perbuatan kortsluiting (nafsu tak terkendali), kerusakan fungsi kemauan dalam dementia, kepribadian psikopatik, dan psikastenia.

DEFISIEN ATAU DEFEK MORAL
Kelemahan pokok dari kehilangan moral adalah ketidakmampuannya untuk mengendalikan diri, menyadari, memahami dan mengatur emosi-emosi, impuls-impuls, dan tingkah laku sendiri. Temasuk dalam jenis ini adalah anak-anak yang bubrah dan nak-anak jahat.

DEKOMPENSASI PSIKOTIS DAN PSIKOSA ORGANIK
Psikosa atau gila adalah bentuk kelalutan jiwa yang amat parah, disintegrasi kepribadian, terputusnya relasi dirinya dengan dunia luar.
Dapat dibagi dalam :
1. Psikosa organik
2. Psikosa fungsional

Dalam jenis psikosa organik:
1. Psikosa siphilitik
2. Psikosa senil
3. Psikosa traumatik
4. Psikosa karena gangguan glanduler
5. Psikosa karena kekurangan vitamin
6. Psikosa karena tidak diketahui sebabnya

PSIKOSA ORGANIK
Psikosa organik adalah psikosa yang disebabkan oleh faktor-faktor non-organis dan ada maladjustement fungsional, sehingga penderita mengalami kepecahan pribadi total, menderita maladjustement intelektual dan instabilitas wataknya.
Gangguan kejiwaan ini dapat dianalisa berdasarkan : predisposisi fisik dn psikis, sejarah hidup pasien, situasi keluarga, dan lingkungan sosial sekitarnya.
Upaya untuk mendiagnosa dan menyembuhkannya diperlukan hal-hal sebagai berikut:
1. Pengetahuan psikologis dan organis
2. Pengetahuan problematik-problematik sosial di tengah masyarakat
3. Beberapa teknik untuk mendiagnosa jenis gangguannya, yaitu :
- Interview
- Psikoterapi
- Psikoanalisa
- Terapi kelompok psikoanalisis
- Terapi tingkah laku

Prinsip-Prinsip dan Perbuatan Belajar

1. Prinsip Belajar

Bimbingan dan Konseling

Prinsip atau konsep-konsep belajar disampaikan oleh Robert M.Gegne, (Muslam, dkk, 2004:28 ) meliputi :

a.Kontiguitas, memberikan situasi atau  materi yang mirip dengan harapan pendidikan tentang respon anak yang diharapkan, beberapa kali secara berturut-turut.

b.Pengalaman, adanya situasi dari respon secara berulang-ulang sehingga menjadi sebuah kebiasaan tingkah laku yang dipraktikkan supaya belajar menjadi lebih sempurna dan lebih lama diingat.

c.Penguatan, adanya respon menyenangkan seperti hadiah bagi prestasi belajar tertentu

d.Motivasi positif, percaya diri dalam belajar

e.Tersedia materi pelajaran yang lengkap dan menyeluruh untuk memancing siswa

f.  Ada upaya membangkitkan ketrampilan intelektual untuk belajar

g. Ada strategi yang tepat untuk membiasakan anak-anak dalam belajar

h.Aspek jiwa anak harus dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor dalam pengajaran.

Menurut prinsip-prinsip yang disampaikan oleh Robert M.Gegne tersebut di atas, bahwa pengulangan merupakan sebagian dari prinsip atau konsep dasar dalam proses pembelajaran. Pengulangan ini menjadikan sebuah perilaku dapat dilakukan secara terus-menerus secara berkala dan menjadi sebuah kebiasaan. Artinya, bahwa pembiasaan merupakan sebagian dari proses belajar yang handal untuk diterapkan.

2.      Proses Perbuatan Belajar

Sebagaimana dikutip oleh Nana Sudjana dalam bukunya, Dasar-Dasar Belajar Mengajar (2009:46), Gagne berpendapat bahwa terdapat delapan tipe perbuatan yang diidentikkan sebagai perbuatan belajar.  Delapan tipe tersebut adalah :

a.      Belajar Signal, yang merupakan proses belajar yang paling sederhana yang melibatkan reaksi dan rangsangan saja.

b.      Belajar mereaksi perangsang melalui penguatan, yaitu memberikan reaksi yang berulang-ulang ketika terjadi suatu penguatan rangsangan. Membiasakan reaksi secara berulang-ulang dan permanen.

c.      Belajar membentuk rangkaian, yaitu belajar yang menghubungkan gejala/faktor /yang satu dengan lainnya sehingga membentuk sebuah rangkaian yang berarti.

d.      Belajar asosiasi verbal, yaitu memberikan reaksi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, terhadap perangsang yang diterimanya

e.      Belajar membedakan hal yang majemuk, yaitu memberikan reaksi yang berbeda terhadap perangsang yang hampir sama sifatnya.

f.        Belajar konsep, yaitu menempatkan obyek menjadi satu klasifikasi tertentu di dalam pemikiran dan konsepsi tertentu.

g.      Belajar kaedah, yaitu menghubungkan beberapa konsep.

h.      Belajar memecahkan masalah dengan cara menggabungkan beberapa kaedah dalam rangka menyelesaikan masalah tertentu.

Dari kedelapan perbuatan belajar di atas memberikan gambaran bahwa yang termasuk dalam perbuatan proses belajar salah satunya adanya suatu kegiatan yang dibiasakan secara berulang-ulang dalam rangka merangkaikan beberapa stimulus, sehingga reaksi yang dihasilkan lebih cepat dan mudah terbentuk. Stimulus-stimulus diusahakan untuk dilakukan dalam proses tersebut, yang mana stimulus itu juga akan memberikan dampak signifikan di masa yang akan datang, bagi persepsi dan apresiasi individu terhadap sebuah tujuan belajar atau tugas perkembangan tertentu.

Belajar

Bimbingan dan Konseling

Cronbach memberikan definisi, Learning is shown by a change in behaviour as a result of experience. Horald Spears memberikan gambaran bahwa Learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction. Sementara itu Geoch menjelaskan, Learning is a change in performance as a result of practice. Dari ketiga definisi tersebut, Sardiman (2009:20) menyimpulkan bahwa yang disebut dengan belajar adalah perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan sebagainya. Sedangkan, sebagaimana dikutip oleh Muslam, dkk, dalam Teori Belajar Robert M.Gegne (2004:27) dijelaskan bahwa  belajar diartikan sebagai suatu perubahan tingkah laku yang relatif tetap dan terjadi sebagai hasil latihan atau pengalaman. Jadi belajar memiliki tiga unsur, yaitu perubahan tingkah laku atau akhlak, adanya latihan atau pengalaman, dan sebelum dikatakan belajar sudah terjadi proses perubahan yang relatif lama. Dalam buku Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, Muhammad Ali (2008:14) merumuskan bahwa yang dimaksud  dengan belajar secara umum berarti proses perubahan perilaku akibat interaksi individu dengan lingkungannya. Perilaku mencakup pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, sikap dan sebagainya yang kesemuanya tidak dapat diindentifikasi dalam diri individu, di mana hal tersebut merupakan kecenderungan yang dinamakan perilaku saja. Perilaku dapat diukur lewat behavioral performance yang meliputi kemampuan menjelaskan, menyebutkan sesuatu atau melakukan suatu perbuatan. Individu dapat dikatakan telah menjalani proses belajar meskipun pada dirinya hanya ada perubahan dalam kecenderungan perilaku.

Muhamad Ali mengutip apa yang disampaikan oleh Kimble dan Garmezy, bahwa sifat perubahan perilaku dalam belajar relatif permanen, yang dengan itu maka hasil belajar dapat diidentifikasi dari adanya kemampuan melakukan sesuatu secara permanen, tetap, terus menerus, dapat diulang-ulang dengan hasil yang sama. Suatu hasil yang terjadi secara kebetulan tidak dapat diulang-ulang, sedangkan hasil belajar yang tercipta lewat belajar dapat diulang-ulang secara nyata.

Memang tidak semua perilaku merupakan hasil dari belajar. Kadang merupakan hasil dari suatu perkembangan. Tetapi yang jelas, bahwa perubahan perilaku dalam proses belajar diakibatkan oleh adanya interaksi individu dengan lingkungannya  yang berlangsung secara sengaja dan sadar. Maka interaksi ini membutuhkan sebuah rangkaian perbuatan yang berulang-ulang, terbiasa dan permanen, sehingga melahirkan hasil belajar yang permanen dan dapat diulang-ulang juga.

Faktor Lingkungan Yang Memberi Pengaruh Bagi Remaja

Bimbingan dan Konseling

Dalam buku Sosiologi Keluarga: Tentang Ikhwal Keluarga, Remaja dan Anak, Soerjono Soekanto (2004:70), menjelaskan beberapa jenis lingkungan yang dapat mempengaruhi perilaku remaja:

a.       Orang tua, saudara-saudara dan kerabat, yang ini merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh dalam diri remaja. Melalui lingkungan ini, remaja mengenal lingkungan dan jenis pergaulan-pergaulan berikutnya yang akan menambah banyak pengaruh yang lain. Usia remaja merupakan usia pancaroba di mana masih dalam rangka mencari indentitas tertentu, di mana pencarian identitas ini pertama tertuju pada sosok dalam diri orang tua, kerabat atau saudaranya. Jika tidak diperoleh dari orang tua, kerabat atau saudara ini, maka pelarian pencarian indentitas tersebut akan beralih ke lingkungan berikutnya, bisa teman sepermainan atau teman di sekolah.

Beberapa hal yang merusak atau mengganggu proses asimilasi remaja dengan keluarganya sehingga remaja mencari kenyamanan bergaul di luar keluarga adalah :

1)      Tidak ada saling pengertian mengenal dasar-dasar kehidupan bersama

2)      Terjadinya konflik mengenai otonomi, di mana satu pihak orang tua ingin agar anaknya dapat mandiri, di lain pihak keluarga mengekangnya

3)      Terjadinya konflik nilai-nilai yang tidak diserasikan

4)      Pengendalian dan pengawasan orang tua yang berlebihan

5)      Ketiadaan rasa saling menolong dan kebersamaam dalam keluarga

6)      Adanya masalah dalam hubungan antara ayah dan ibu

7)      Jumlah anak yang banyak yang kurang mendapatkan kasih saying orang tua

8)      Campur tangan pihak luar keluarga

9)      Kedudukan social ekonomi yang berada di bawah standard

10)  Pekerjaan orang tua yang tidak seimbang, seperti jabatan ibu yang lebih tinggi dari ayah.

11)  Aspirasi orang tua yang tidak disesuaikan dengan kenyataan yang terjadi

12)  Konsepsi peranan keluarga yang menyimpang dari kenyataan

13)  Timbulnya favoritisme di kalangan anggota keluarga, yang ini akan menimbulkan perhatian yang kurang adil merata dan seimbang di antara anggota keluarga

14)  Pecahnya keluarga yang disebabkan konflik ayah, ibu dan anak-anaknya

15)  Persaingan tajam di antara anak-anak yang menyolok

Kesemua kondisi tidak kondusif bagi pembentukan kepribadian remaja di atas, apabila terjadi, maka yang pertama menjadi korban adalah anak-anaknya terutama dalam usia remaja, di mana sosok figur panutan masih dibutuhkan dalam kerangka pembentukan identitasnya.

b.      Kelompok sepermainan, merupakan teman-teman bermain di luar rumah dan luar sekolah, bisa mempengaruhi remaja baik  positif maupun negatif.

c.       Kelompok pendidikan, yaitu pergaulan di sekolah, yang melibatkan pergaulan siswa dengan guru, dan siswa dengan siswa. Adanya pembiasaan dalam perbuatan baik dan mulia di sekolah, diharapkan bisa memberikan pengaruh positif dalam pembentukan karakter dan kebiasaan baik bagi remaja, sebab lingkungan sekolah juga berperan dalam mempengaruhi perilaku remajanya.

Kompetensi Guru Pembimbing

The nutmeg plant is native to Indonesia's Band...

Image via Wikipedia

Dalam Surat Keputusan Mendiknas No.045/u/002 tentang Pelaksanaan Pendidikan Tinggi Kompetensi adalah seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas dibidang pekerjaan tertentu. Kompetensi menuntut adanya kecerdasan yang bertanggungjawab serta adanya pengakuan dari masyarakat. Guru pembimbing memiliki standard kualifikasi tertentu, sehingga memenuhi standard kompetensi sebagai Guru pembimbing atau konselor. Kompetensi tersebut membentuk guru pembimbing menjadi efektif, kredibel dan legitimed. Sesuai Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan Dan Konseling Dalam Jalur Pendidikan Formal (Depdiknas, 2008), kompetensi guru pembimbing tersebut adalah:

1)  Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani

v     Menghargai dan menjungjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, individualitas, kebebasan memilih dan mengedepankan kemaslahatan konseli dalam konteks kemaslahatan umum

v     Mengaplikasikan perkembangan fisiologis dan psikologis serta perilaku konseli

2)  Mengusai landasan teoritik bimbingan dan konseling

v     Menguasai teori dan praktis pendidikan

v     Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur, jenjang dan jenis satuan pendidikan

v     Menguasai konsep dan praktis penelitian dan bimbingan dan konseling

v     Menguasai kerangka teoritik dan praktis bimbingan dan konseling

3) Menyelenggarakan bimbingan dan konseling yang memandirikan

v     Merancang program bimbingan dan konseling

v     Mengimplementasikan program bimbingan dan konseling yang komprehensif

v     Menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling

v     Menguasai konsep dan praksis asesmen untuk memahami kondisi, kebutuhan dan masalah konseli

4) Mengembangkan pribadi dan profesionalitas secara berkelanjutan

v     Beriman dan bertakwa kepada TYME

v     Menunjukkan integritas dan stabilitas kepribadian yang kuat

v     Memiliki kesadaran dan komitmen terhadap etika profesional

v     Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat kerja

v     Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan konseling

v     Mengimplemtasikan kolaborasi antar profesi

Bimbingan dan Konseling

Kesemua kompetensi di atas dijadikan sebagai standard kompetensi bagi guru pembimbing di Indonesia. Bentuk kompetensi tersebut disusun sedemikian rupa agar profesi konselor atau guru pembimbing dapat terjaga baik mutu, teknis dan hasilnya.

Seorang yang akan menjadi seorang guru pembimbing atau konselor diharuskan sudah memenuhi syarat dan mencapai tingkat kompetensi sesuai yang ditetapkan.

Dengan demikian,  profesi guru pembimbing menuntut kepemilikan penguasaan kemampuan memahami secara detail pribadi konseli, sehingga mampu menumbuhkan nilai kemanusiaan dan rasa percaya diri yang mapan dalam diri konseli. Kompetensi pertama adalah seorang guru pembimbing harus mampu memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani, yang dengan kemampuan ini maka guru pembimbing dapat memberikan rasa harga diri dalam diri konseli, dengan menjunjung nilai kemanusiaan dan individualitas yang total. Pada saat yang sama guru pembimbing harus mampu juga membuka lebar-lebar pintu kebebasan memilih dan menentukan pilihan sendiri yang sesuai dengan kehendak dan kemauan konseli, dengan tetap mengedepankan kemaslahatan dan kebaikan konseli dalam konteks kemaslahatan umum. Dengan koridor tersebut, guru pembimbing juga selalu memperhatikan dan mengevaluasi perkembangan fisiologis dan psikologis serta perilaku konseli.

Seorang guru pembimbing dituntut menguasai landasan teori dan praktik semua kegiatan dan proses bimbingan dan konseling. Tidak hanya bisa menghafalkan berbagai macam teori yang sangat banyak, tetapi dituntut juga mampu mengaplikasikan berbagai teori tersebut dalam pengalaman nyata konseli. Tidak cukup dengan adanya penguasaan teori dan praktis pendidikan dan prosedur pelayanan konseling, guru pembimbing harus mampu menjadi seorang peneliti unggul, sehingga mampu mengembangkan dan merumuskan berbagai hasil penelitiannya untuk memajukan  kegiatan profesi bimbingan dan konseling.

Selain itu, guru pembimbing juga harus mampu menyusun rancangan dan konsep pelaksanaan bimbingan dan konseling yang berdasarkan pada analisa yang komprehensif, serta mampu membuat penilaian yang sistematis, sehingga berkompeten memberikan peta konsep dan perkiraan permasalahan dan penyelesaian masalah konseli secara ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan.

Di sampan ketiga kompetensi di atas, satu kompetensi yang juga wajib dimiliki seorang guru pembimbing profesional, yaitu memiliki semangat meyakini Tuhan Yang Maha Esa, dengan performa kepribadian yang stabil dan kuat, yang memiliki kesadaran dan mematuhi kode etik professional sebagai guru pembimbing.

Kemudian setelah semua mencukupi, guru pembimbing juga diharuskan aktif berkomunikasi dengan sesama guru dalam lembaga pendidikannya serta aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan yang bermanfaat untuk orang banyak, lewat keterlibatannya dalam organisasi-organisasi profesi.

Masa Remaja Manusia

  1. Masa remaja  dan perkembangannya

Siswa sekolah menengah pertama merupakan masa usia remaja. Dalam bukunya Psikologi Perkembangan (2009:206), Hurlock menjelaskan bahwa istilah remaja atau adolescence berasal dari kata Latin adolescere yang berarti “tumbuh“ atau “tumbuh menjadi dewasa”. Andi Mappiere merumuskan rentang usia remaja dalam buku Psikologi Remaja (1982:25), bahwa rentang usianya antara 13 sampai 17 tahun untuk remaja awal dan 18 sampai sampai 21 tahun untuk remaja akhir. Masa remaja merupakan  masa yang masih labil dan berada dalam titik rawan manusia. Masa remaja berada dalam masa transisi dari kanak-kanak menuju dewasa. Masa pancaroba ini memungkinkan adanya ketidakjelasan arah pemikiran dan tingkahlakunya. Kadang menampilkan diri dengan sikap yang seakan-akan sudah dewasa, tetapi, sebenarnya secara mental belum matang dan siap menerima keadaan dirinya sebagai orang dewasa. Tetapi pada saat yang sama, kadang berlaku kekanak-kanakan jika sedang atau dipaksa menghadapi permasalahan hidupnya secara mandiri. Dalam masa ini, pemaksaan adanya pemandu dan penuntun bisa berarti ancaman bagi perkembangannya, tetapi sebenarnya manusia usia remaja sangat membutuhkan tuntunan dan pedoman yang jelas untuk arah masa sepannya, meskipun penolakan tentunya ada dan bahkan bersikap keras kepala memaksakan kehendaknya sendiri, tanpa menghiraukan bimbingan dan peringatan guru atau orang tuanya.. Tidak mengherankan jika banyak orang tua yang dibuat kalangkabut menghapi berbagai kerenah remaja ini.

Dalam Psikologi Remaja (1982:42), Andi Mappiare menjelaskan pertumbuhan dan perkembangan merupakan dua jenis perubahan yang saling berkaitan. Pertumbuhan lebih menonjolkan perubahan fisik, sedangkan perkembangan cenderung ke persoalan psikis atau kejiwaan remaja.

Arti perubahan menurut Boring, Langfeld, dan Weld, lebih dekat kepada makna “kematangan”, di mana perubahan tersebut mencapai kematangan jika secara fisik dan psikis sudah mendapai tahapan tertentu dalam fase perkembangan manusia. Dengan demikian menurut Boring, bahwa pertumbuhan dan perkembangan dapat  mengacu pada perubahan sebagai akibat adanya pengaruh yang mengenai kehidupan organisme.

  1. Ciri-ciri masa remaja

Menurut Hurlock, remaja memiliki ciri-ciri khusus yang spesifik dalam diri seorang remaja, yaitu :

  1. Masa remaja sebagai periode yang penting

Meskipun semua periode adalan penting, tetapi kadar kepentingan usia remaja cukup tinggi mengingat dalam periode ini begitu besar pengaruh fisik dan psikis membentuk kepribadian manusia. Periode ini membentuk pengarugh paling besar terhadap fisik dan psikis manusia sepanjang hayatnya kelak.

  1. Masa remaja sebagai periode peralihan

Peralihan bukan berari terputusnya suatu rangkaian sebelumnya dengan rangkaian berikutnya. Peralihan lebih menuju pada arti sebuah jembatan pergantian atau tahapan antara dua titik. Titik ini juga bisa disebut titik rawan periode manusia, di mana dalam titik ini terbuka peluang untuk selamat atau tidaknya pola pikir dan pola sikap manusia sebagai pelaku peralihan itu sendiri. Peralihan ini dari masa kanak-kanak menuju dewasa. Tidak dikatakan masa kanak-kanak yang penuh masa-masa bermain-main, tetapi juga tidak masa dewasa, yang penuh kematangan dalam pemikiran dan tingkah laku.

  1. Masa remaja sebagai periode perubahan

Tingkat perubahan tingkah laku remaja sama dengan perubahan fisiknya. Ada lima perubahan yang bersifat universal :

a)      Meningginya emosi

b)      Perubahan tubuh

c)      Perubahan minat dan peran dalam pergaulan sosial

d)      Perubahan pola nilai-nilai yang dianutnya

e)      Perubahan yang ambivalen, di mana masa remaja biasanya menginginkan perubahan, tetapi secara mental belum ada kesadaran tanggungjawab atas keinginannya sendiri.

  1. Masa remaja sebagai usia bermasalah

Masa remaja memiliki masalah yang sulit di atasi, disebabkan adanya kebiasaan penyelesaian masalah dalam masa sebelumnya yaitu masa kanak-kanak oleh orang tua dan guru sehingga remaja kurang memiliki pengalaman dalam menyelesaikan setiap masalahnya. Oleh karena dalam penyelesaian masalahnya remaja kurang siap, maka kadangkala tidak mencapai keberhasilan yang memuaskan, sehingga kegagalan tersebut bisa berakibat tragis.

  1. Masa remaja sebagai masa mencari identitas

Salan satu cara untuk menampilkan identitas diri agar diakui oleh teman sebayanya atau lingkungan pergaulannya, biasanya menggunakan simbol status dalam bentuk kemewahan atau kebanggan lainnya yang bisa mendapatkan dirinya diperhatikan atau tampil berbeda dan individualis di depan umum.

  1. Masa remaja sebagai usia yang menimbulkan ketakutan

Sebagaimana disampaikan oleh Majeres yang dikutip oleh Hurlock dalam Psikologi Perkembangan (2009:208), disebutkan bahwa “banyak anggapan popular tentang remaja yang mempunyai arti yang bernilai, dan sayangnya, banyak yang bersifat negatif”. Ini gambaran bahwa usia remaja merupakan usia yang membawa kekhawatiran dan ketakutan para orang tua. Stereotip ini  memberikan dampak pada pendalaman pribadi dan sikap remaja terahadap dirinya sendiri.

  1. Masa remaja sebagai masa yang tidak realistk

Berbagai harapan dan imajinasi yang tidak masuk di akal seringkali menghias pemikiran dan cita-cita kaum remaja. Ambisi melintasi logika tersebut tidak dapat dikendalikan dan selalu ada dalam pengalaman hidup perkembangan psikologi remaja. Ia melihat dirinya dan orang lain sebagaimana yang dicita-citakan dan diinginkan, bukan sebagaimana adanya di alam nyata.

  1. Masa remaja sebagai ambang masa dewasa

Kebiasaanya di masa kanak-kanak, ternyata masih juga kadang terbawa di usia remaja ini, dan teramat sukar untuk menghapusnya. Sementara usianya yang menjelang dewasa menuntut untuk meninggalkan kebiasaan yang melekat di usia kanak-kanak tersebut. Menyikapi kondisi ini, kadangkala untuk menunjukkan bahwa dirinya sudah dewasa dan sudah siap menjadi dewasa, mereka bertingkahlaku yang meniru-niru sebagaimana orang dewasa di sekitarnya bertingkahlaku, bisa tingkahlaku positif dan bisa negatif.

c. Tugas perkembangan masa remaja

Dalam buku Psikologi Perkembangan (2009:10), Hurlock memberikan rician tugas-tugas perkembangan masa remaja, yaitu :

v     Memperoleh hubungan-hubungan baru dan yang lebih matang dengan yang sebaya dari kedua pria maupun wanita

v     Memperoleh peranan sosial pria dan wanita

v     Menerima fisik dari dan menggunakan badan secara efektif

v     Mengharapkan dan mencapai perilaku sosial yang bertanggungjawab

v     Memperoleh kemandirian diri melepaskan ketergantungan diri dari orang tua dan orang dewasa lainya.

v     Mempersiapkan karier ekonomi

v     Persiapan perkawinan dan kehidupan berkeluarga

v     Memperoleh perangkat nilai dan sistem etis sebagai pegangan untuk berperilaku.

Sementara itu, Andi Mappiere dalam buku Psikologi Remaja (1982:99), menambahkan tugas perkembangan remaja selain tersebut di atas yaitu adanya sikap mengembangkan keterampian intelektual dan konsep-konsep yang diperlukan sebagai warga negara yang baik

Download Gratis Mata Kuliah Konseling Perkawinan, Jurusan Bimbingan dan Konseling

Di bawah ini kami menyediakan bahan-bahan materi mata kuliah Bimbingan dan Konseling Perkawinan, Jurusan Bimbingan Konseling.
Silakan bagi yang berminat bisa didownload, bebas tanpa ijin tertulis dari penulis atau siapapun.
Mohon diperhatikan, nama orang, nama lokasi dan kabupaten hanyalah contoh, dan tidak merujuk kepada yang bersangkutan. Harap Maklum.

DILARANG MEMPERJUALBELIKAN DATA DI BAWAH INI!

BAB I HUKUM PERKAWINAN

BAB II PELAKSANAAN PERKAWINAN

BAB III Perkawinan Antar Agama

BAB IV HAKEKAT PERKAWINAN

BAB V UU perkawinan 74

BAB VI POLIGAMI

BAB VII KONSEP PERKAWINAN PERSPEKTIF AGAMA

BAB VIII Bimbingan dan Konseling PERKAWINAN

PERKAWINAN DALAM ISLAM LENGKAP

Pustaka

Download Gratis Tugas Kuliah Konseling Lintas Budaya,Jurusan Bimbingan Konseling

Di bawah ini kami menyediakan contoh tugas Konseling Lintas Budaya, jurusan Bimbingan Konseling.
Silakan bagi yang berminat bisa didownload, bebas tanpa ijin tertulis dari penulis atau siapapun.
Mohon diperhatikan, nama orang, nama lokasi dan kabupaten hanyalah contoh, dan tidak merujuk kepada yang bersangkutan. Harap Maklum.

KONSELING LINTAS BUDAYA-Barongan di Jawa

KONSELING LINTAS BUDAYA-budaya nakal siswa sekolah

KONSELING LINTAS BUDAYA-KEBIASAAN PULANG MALAM DI PERKOTAAN

KONSELING LINTAS BUDAYA-KEBIASAAN TAHLIL

KONSELING LINTAS BUDAYA-KEPERCAYAAN ADANYA RATU KIDUL

KONSELING LINTAS BUDAYA-PENDAKWAH DI LOKASI PARA PELACUR

Download Gratis contoh tugas Metode Penelitian, Jurusan Bimbingan Konseling

Di bawah ini kami menyediakan contoh tugas Metode Penelitian, jurusan Bimbingan Konseling.
Silakan bagi yang berminat bisa didownload, bebas tanpa ijin tertulis dari penulis atau siapapun.
Mohon diperhatikan, nama sekolah, lokasi dan kabupaten hanyalah contoh, dan tidak merujuk kepada yang bersangkutan. Harap Maklum.

contoh proposal penelitian-PENGARUH HANDPHONE TERHADAP MOTIVASI BELAJAR

proposal penelitian- Pengaruh kehadiran guru terhadap akhlaq siswa SMP Negeri 01 Banjarnegara Tahun Pelajaran 2009_2010

proposal penelitian-PENGARUH HANDPHONE TERHADAP MOTIVASI BELAJAR

proposal penelitian-Pengaruh Hukuman pelanggaran peraturan sekolah terhadap Prestasi belajar siswa SMP Negeri 01 Banjarnegara Kabupaten Banjarnegara

proposal penelitian-Pengaruh kehadiran guru terhadap akhlaq siswa SMP Negeri 02 Banjarnegara Tahun Pelajaran 2009_2010

proposal penelitian-Pengaruh pembiasaan beragama di sekolah terhadap perkembangan akhlaq siswa di SMP Negeri 01 Banjarnegara Kabupaten Banjarnegara

proposal penelitian-Pengaruh pembiasaan beragama di sekolah terhadap perkembangan akhlaq siswa di SMP Negeri 01 Banjarnegara Kabupaten Banjarnegara (2)