Isu Lady Gaga rupa-rupanya sudah meleber ke banyak aspek dan menggelinding bagai bola salju, yang siap menubruk apapun di depannya. Tidak hanya di kalangan artis dan selebritis, baru rencana konser saja, Lady Gaga sudah melahirkan banyak rumor dan permasalahan yang bisa menjurus pada keretakan persatuan dan keragaman rakyat Indonesia. Permasalahan tersebut antara lain:
-
Banyaknya komentar dan pendapat baik di kalangan ahli seni, pejabat pemerintah maupun rakyat kecil termasuk para penggemar dan bukan penggemar di media sosial seperti twitter, yang kurang sehat
-
Pendapat dan komentar bukan berupaya mendamaikan suasana dan menenangkan wacana kedatangan Lady Gaga, tetapi menjurus pada upaya pelabelan “teroris” dan “radikal” pada kelompok tertentu.
-
Respon terhadap kedatangan Lady Gaga juga sudah membias menjadi isu antar negara Indonesia dan Amerika Serikat seiring kedatangan permohonan duta besar Amerika Serikat supaya Polri jamin keamanan Lady Gaga
-
Munculnya upaya pembunuhan karakter terhadap pribadi Lady Gaga yang seharusnya tidak perlu terjadi jika Lady Gaga tidak memaksakan diri datang ke Indonesia.
-
Menciptakan opini sesat di tengah masyarakat, yang mengangkat Lady Gaga sebagai simbol keberanian memperjuangkan kebebasan berkekspresi
-
Mendeskriditkan dan melukai falsafah Pancasila dan kebebasan berkekspresi di Indonesia, sebab seolah dengan gagalnya Lady Gaga “berkekspresi seni” di Indonesia disebabkan oleh ruang kebebasan yang dikekang di Indonesia meskipun sesungguhnya secara ontologis permasalahan bukan pada kebebasan berkekspresi itu sendiri.
Masyarakat Indonesia seharusnya bisa menggunakan nalar dan “kedewasaan berekspresi”, sehingga semua pihak menerima kenyataan bahwa Lady Gaga tidak memberi arti dan makna yang berfaedah bagi dunia seni dan bidang apapun kecuali mungkin bisnis di Indonesia. Lady Gaga justru menimbulkan polemik tidak jelas dan melegitimasi hadirnya manusia penganut ajaran neo-anarkhisme di dunia seni.
Tentang insan seni, Indonesia sudah memiliki seniman yang bisa diandalkan dan dapat dijual di mata internasional, tak kalah dengan Lady Gaga.
Sikap dewasa harus dikedepankan di tengah hiruk pikuk “kekacauan” wacana mengenai Lady Gaga ini, yang seharusnya tidak perlu terjadi.
Menurut hemat penulis, menimbang berbagai kemungkinan yang akan terjadi, lebih tepat Lady Gaga tidak perlu datang ke Indonesia, sebab dari segi manfaat dan faedah yang dapat diperoleh masyarakat Indonesia, dirasa Indonesia tidak membutuhkan kehadiran Lady Gaga.