Sesuai UUD RI 1945, IIPAC wajib Dukung Kemerdekaan Palestina


Kita sepakat bahwa tidak mengindahkan dan mengakui kebenaran absolutitas UUD RI 1945, terutama pada Pembukaan UUD RI 1945 adalah sudah masuk level indikator “gairah mengkhianati bangsa”. UUD RI 1945 merupakan satu pilar (meminjam istilah Almarhum Taufiq Kiemas) dari empat pilar bangsa Indonesia. Sungguh sangat memprihatinkan jika ada warga negara dengan KTP nya bergambar kepulauan Indonesia yang luas ini, tidak setia kepada UUD RI 1945, lebih-lebih justru setia dengan undang-undang negara lain, pada saat dirinya masih berada dan hidup mencari makan di Indonesia.
Paragraf di atas bukan untuk menunjuk jari ke Saudara kita, Anggota Komisi I DPR Tantowi Yahya yang tempo hari, sudah secara diam-diam bertemu dengan anggota Parlemen Israel Knesset di Tel Aviv. Memang hanya bertemu, sekedar bertemu dan bertamu, namun bagi masyarakat Indonesia itu memberi led indikator meskipun masih harus dikaji lagi, tentang kedekatan dan kejauhannya menghayati dengan UUD RI 1945.
Al kisah, kemudian penolakan terhadap kunjungan sepihak Tantowi Yahya ternyata memantik “retorika perang” dari IIPAC yang akhirnya diralat bahwa perang yang dimaksud adalah sabotase keamanan dan telekomunikasi oleh Benjamin Kentang. Menarik sekali dikaji tentang hubungan antara Tantowi Yahya, Benjamin Kentang, IIPAC dan ancaman perang. Adakah sedemikian dekat? Masyarakat yang akan menilainya, mengapa ketika kita menyebut Israil, selalu dihubungkan dengan perang dan perang, ancaman demi ancaman? Bahkan IIPAC sendiri yang mencoba “test case” tentang hubungan tersebut, yang kontan saja menuai “kritik dan saran” kepada Benjamin Ketang, agar lebih arif melihat perbedaan pendapat di Indonesia yang majemuk ini.
IIPAC (Indonesia-Israel Public Affairs Committee) merupakan sebuah LSM made-in Jember yang Benjamin Ketang menjadi Direktur Eksekutifnya. IIPAC diresmikan pada Jumat 29 Januari 2010, dengan tujuan memfasilitasi investasi Yahudi dari seluruh dunia di Indonesia.
Organisasi berafiliasi ke Israil ini juga didukung oleh banyak orang di seantero Indonesia. Menurut sebuah sumber dokumen yang ditampilkan di situs IIPAC, lembaga itu berdomisili di Jember, Jawa Timur. Surat Keterangan Domisili ditandatangani oleh Kepala Desa bernama Hadi Supeno pada tanggal 25 Agustus 2010 bernomor Reg: N470/ /35.11.2003/2010. Dalam surat tersebut ditulis bahwa The Indonesia-Israel Public Affairs Committee merupakan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang “betul-betul berdomisili di Desa Tamansari, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember yang beraktifitas secara nasional dan internasional.

Kelahiran IIPAC sebuah langkah mundur
Dalam dokumen yang ada, IIPAC jelas tidak memiliki visi dan misi perdamaian dengan mendukung bagi kemerdekaan Palestina (IIPAC bisa mengoreksi jika tulisan ini keliru). Jika dikorelasikan dengan berbagai peristiwa dan gerakan keyahudian di dunia internasional, kelahiran IIPAC beserta visi misi dan agendanya merupakan langkah mundur, dengan beberapa argumen sebagai berikut :
1. IIPAC tidak memiliki tujuan sebagian gerakannya untuk menghargai darah rakyat Palestina sebagaimana rakyat Palestina mendukung perjuangan Indonesia dalam mencapai kemerdekaan pada awal dekade proklamasi Indonesia, sederajat dengan bangsa yang sudah mendeklarasikan berdirinya negara Israil.
2. Kita mengetahui bahwa di Amerika Serikat sendiri, dan di berbagai belahan dunia, hanya sedikit massa Yahudi yang mendukung pendirian negara Israil di tanah Palestina sebagaimana sekarang adanya.
3. Hasil konsensus internasional juga sangat intensif mendukung kemerdekaan negara Palestina, dengan pengakuan Negara Palestina sebagai “Negara”.
4. Pialang telekomunikasi dunia, Google tidak ketinggalan juga sudah mengakui Negara Palestina.
5. MC Donald juga mendukung penuh Palestina dengan menolak mendirikan cabangnya di tanah pendudukan Israil di Palestina.
6. Tokoh yang paling menggemparkan dunia, Mahmoud Ahmadinejad, mantan presiden Iran yang asli Yahudi (tidak seperti Saudara kita Benjamin Ketang yang “Yahudi Jadi-Jadian”), menolak pendirian negara Israil, yang juga didukung seluruh keturunan Yahudi di Iran, terutama mereka keturunan Yahudi yang duduk di Parlemen Iran.
7. Banyak LMS bentukan “Arek” Yahudi yang tidak mendukung berdirinya negara Israil. Kalau sebagian besar orang Yahudi saja tidak mendukung berdirinya Negara Israil, mengapa kita pusing tujuh keliling mengakui Negara Israil, apalagi dalam konsisi sekarang ini yang masih menindas bangsa Palestina? Ini bukan berarti Indonesia tidak mendukung negara Israil secara mutlak, tetapi Indonesia bersikap adil dengan menghendaki Israil mengakui kemerdekaan Palestina, baru Indonesia mengakui negara Israil dan membuka hubungan seluasnya dengan Israil.
8. Benjamin Ketang menyebut bahwa dengan kerjasama dengan Israil, Indonesia bisa menjadi perkasa. Penulis mencerna “perkasa” yang dimaksud IIPAC itu mungkin memiliki hubungan dan dukungan dengan negara yang memiliki persenjataan perang yang canggih. Ini juga kurang masuk akal, sebab persenjataan Israil tidak mampu dan bisa memaksakan dirinya menyerang Iran. Saat ini, kehebatan Israil sudah diruntuhkan oleh Iran dalam panggung “soft war” yang disaksikan oleh penonton di seluruh dunia. Israil hanya berani menyerang negara lemah dari segi peralatan perang seperti Suriah, Palestina, dll. Bagaimana Indonesia bisa menjadi perkasa dengan dukungan Israil yang “mitos keperkasaannya” sudah runtuh? Bahkan, yang akan terjadi Indonesia akan menjadi budak Israil dan olok-olokan masyarakat Internasional.
9. Benjamin Ketang menyebut bahwa Yahudi adalah penguasa telekomunikasi. Mungkin itu benar, meskipun itu sebenarnya lebih sebagai mitos sebab Iran, tanpa berafiliasi dengan Israil ternyata mampu memaksa Israil bertekuk lutut dan selalu hanya bisa menggertak hendak menyerang Iran, terutama dalam kecanggihan teknologi persenjataan perang. Atau mungkin Benjamin Ketang menganggap hasil karya film-film Hollywood dan Facebook sebagai ikon kemajuan saraf telekomunikasi bangsa Yahudi? Ini juga tidak tepat, sebab Google justru sudah mengakui batas wilayah Negara Palestina yang realistik yang keputusan ini mendapat kecaman entitas Israil. Facebook? Meskipun pendiri Facebook asli Yahudi, ternyata Facebook juga tidak mendukung “peniadaan negara” Palestina sebab jumlah akun pendukung Palestina di facebook juga tidak bisa dianggap remeh. Jadi facebook sekarang ini secara “domain massa”, sudah dimiliki oleh pendukung Palestina, meskipun status domain websitenya secara administrasi dipegang orang Yahudi. Hollywood juga tidak pernah mengeluarkan film yang secara terang-terangan mengakui Israil dengan meniadakan negara Palestina. Jadi masyarakat internasional sudah mendukung komposisi dan solusi dua negara, mengapa IIPAC tidak secara tegas dan terang mendukung solusi dua negara, Israil dan Palestina? Janganlah Saudaraku Benjamin Ketang terlalu menghabiskan waktu mendewa-dewakan Israil pada saat Israil sedang waspada dan konsentrasi penuh menghadapi “soft war” dengan gerakan internasional yang melimpahkan dukungan secepatnya bagi kemerdekaan Palestina. Sekarang ini sudah lahir ribuan ahli bidang telekomunikasi yang non-Yahudi, yang siap berhadap-hadapan dengan ahli dari Yahudi. Jadi di bidang telekomunikasi, Yahudi (terutama pendukung Israil) sudah bukan “penguasa” lagi di panggung internasional. Masih mendewakan Israil menunjukkan “pikiran bagai katak dalam tempurung”.
10. IIPAC bukan organisasi politik? Dalam banyak informasi diperoleh kabar valid, bahwa IIPAC bekerjasama dengan lobby Yahudi internasional sudah “biasa” mendukung kepala daerah dalam pencalonannya. Kalo bukan organisasi politik, mestinya misi politik juga ditiadakan 100% dan tidak ada dukungan terutama materi kepada calon kepala daerah tertentu. Kemudian, tentang perayaan HUT Kemerdekaan Israil yang beberapa tahun yang lalu sempat menghebohkan, juga seharusnya tidak diadakan, kecuali ada motif politik.
11. Perlu ditegaskan dan dibedakan antara “Yahudi” dan “Israil”. Yahudi mungkin merupakan pendiri Israil, tetapi itu tidak semua Yahudi mendukung “Israil” (istilah untuk menyebut negara Israil sekarang), sehingga kita perlu bedakan Yahudi dan Israil. Dan, warga negara Israil, tidak semuanya berbangsa Yahudi.

Tulisan ini bukan untuk mendistorsi eksistensi IIPAC dan etnis Yahudi di Indonesia, tetapi sebagai dukungan bersama menciptakan dunia yang ramah, dengan menghargai kesederajatan sesama bangsa di dunia, untuk membina peradaban setara.Kita ingin nama besar “Yahudi”  tidak diruntuhkan oleh orang yang berpikiran “bagai katak dalam tempurung”, yang mengagungkan-agungkan dirinya sendiri (yahudi) pada saat semua sudah berubah di luar sana!.

Patut kiranya kita lebih jernih memandang dan memperbincangkan tentang Indonesia, Yahudi, Israil, sebab ketiganya berbeda satu sama lain. Sedangkan upaya untuk menyatukan tidak lain metodenya harus ada komunikasi intensif dan membangun kepercayaan serta memahami aspirasi masing-masing dengan setara dan sederajat.

Sumber :

http://www.harianterbit.com/2012/11/19/prabowo-ngaku-tak-kenal-benjamin-ketang/

http://www.arrahmah.com/read/2011/09/14/15207-dokumen-benyamin-ketang-pendiri-lsm-zionis-israel-asal-wuluhan.html

http://aslibumiayu.wordpress.com/2012/04/02/agen-yahudi-dari-n/

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/06/18/mol7s5-ketua-pbnu-bicara-soal-kunjungan-tantowi-yahya-ke-israel

http://politik.kompasiana.com/2013/06/19/tantowi-yahya-pengkhianat-bangsa-570083.html